News

Delapan Momen Pencuri Perhatian di MotoGP 2017

MotoGP Catalunya 2017 © AFP

MotoGP 2017 memang tak menghadirkan sembilan pemenang balapan berbeda seperti tahun lalu, namun keseruannya tak kalah mencengangkan bagi para penggemar. Pertarungan Marc Marquez dan Andrea Dovizioso memperebutkan gelar sampai seri terakhir mungkin merupakan sajian terdahsyat musim ini.

Meski begitu, ada peristiwa-peristiwa menarik lain yang juga membuat MotoGP 2017 tak kalah seru, seperti dominasi Maverick Vinales yang akhirnya luruh seiring berjalannya musim, cedera Valentino Rossi dan juga gebrakan Johann Zarco.

Kami pun telah memilih delapan momen paling mencolok yang terjadi sepanjang musim MotoGP 2017. Mari simak yang berikut ini, GP Nation! 

DOMINASI AWAL MAVERICK VINALES

Sejak pertama kali mengendarai YZR-M1, Maverick Vinales memang tampil mengesankan, menguasai seluruh uji coba pascamusim 2016 dan pramusim 2017. Pada lima seri pertama, rider Movistar Yamaha ini bahkan langsung merebut tiga kemenangan, serta memimpin klasemen pembalap.

Sayangnya, masalah teknis M1 mulai nampak menjelang pertengahan musim. Motor ini diketahui sulit dikendalikan dan melaju kencang di sirkuit-sirkuit dengan aspal tua, yang berarti menghadirkan grip yang begitu rendah. Tak hanya itu, M1 juga sulit dikendarai dalam kondisi basah.

Akibatnya, dominasi Vinales pun kian luntur seiring berjalannya musim balap, dan ia tak meraih satupun kemenangan lagi sampai akhir musim meski berhasil meraih beberapa podium. Rider berusia 22 tahun ini pun harus rela melihat gelar dunia melayang dari genggaman dan mengakhiri musim di peringkat ketiga.

COMEBACK MARC MARQUEZ

Istilah ‘jarang menang’ sama sekali tak bisa menggambarkan seorang pembalap seperti Marc Marquez, namun itulah yang terjadi padanya selama delapan seri pertama, di mana ia hanya sekali menang dan justru dua kali gagal finis. Meski begitu, rider Repsol Honda ini selalu berhasil menemukan celah untuk bangkit dari keterpurukan.

Usai tertinggal dari Maverick Vinales dan Andrea Dovizioso, Marquez pun meraih kemenangan di Sachsenring, Jerman dan di sinilah titik baliknya. Tren positif ini ia lanjutkan di sisa musim, di mana ia meraih empat kemenangan tambahan, dan tak pernah absen dari podium kecuali di Inggris dan Malaysia.

Meski begitu, Marquez harus menghadapi perlawanan sengit dari Andrea Dovizioso dalam memperebutkan gelar dunia. Rider 24 tahun ini harus menunggu sampai seri terakhir untuk berhasil melakukannya. Bila melihat prestasinya yang angin-anginan pada paruh pertama musim ini, siapa sangka Marquez akan meraih gelar keenamnya tahun ini?

GEBRAKAN ANDREA DOVIZIOSO

Sejak turun di MotoGP pada 2008, Andrea Dovizioso selalu digolongkan sebagai rider underdog, meski ia selalu membela tim-tim kompetitif. Pengorbanannya pindah ke Ducati di kala pabrikan tersebut sedang buruk-buruknya (2013) ternyata tak sia-sia, terbukti dari hasilnya tahun ini.

Finis kedua di Qatar, Dovizioso kembali gagal finis di Argentina usai tertabrak Aleix Espargaro. Orang mengira peluang Dovizioso kembali ke papan atas lagi-lagi tertutup rapat. Meski begitu, rider 32 tahun ini menggebrak dengan kemenangan bersejarahnya di Mugello, Italia dan mematahkan berbagai rekor fantastis.

Pesta Dovizioso tak terhenti di Mugello, karena hanya sepekan setelahnya, ia kembali menang di Catalunya. Dua kemenangan pun tak cukup, dan Dovizioso semakin membuat banyak pihak terperangah berkat kemenangannya di Inggris dan Malaysia, serta kemenangan yang ia raih di Austria dan Jepang usai mengalahkan Marc Marquez tepat di tikungan terakhir.

Bukan kemenangan saja yang membuat Dovizioso mendapat banyak pujian dan bahkan pendukung baru. Statusnya sebagai rider underdog segera berubah sebagai pahlawan baru, usai membuat Marquez terpaksa mengunci gelar dunia di seri terakhir.

DEBUT JOHANN ZARCO

Dilihat dari hasil uji coba pramusimnya yang biasa-biasa saja, tak ada yang menyangka Johann Zarco bakal menggebrak di seri pembuka di Losail, Qatar. Hanya bermodalkan motor YZR-M1 versi 2016, ia memimpin jalannya balap selama enam lap pertama sebelum terjatuh dan gagal finis.

Di seri-seri berikutnya, Zarco pun membuktikan bahwa performanya di Qatar bukanlah ‘one hit wonder’. Juara dunia Moto2 2015-2016 ini finis lima besar di tiga seri berikutnya dan finis kedua di seri kandangnya, Le Mans, Prancis. Dan kegarangan ini selalu ia tunjukkan di sisa musim dengan merebut pole di Belanda dan Jepang.

Belanda, Australia, Malaysia dan Valencia merupakan pembuktian utama bahwa Zarco memang layak mendapatkan tempat di tim pabrikan. Membuat ‘hidup’ para rider papan atas semakin sulit, rider berusia 27 tahun ini pun berhasil naik podium di dua seri terakhir, dan mengakhiri musim di peringkat keenam, mengalahkan lima kali juara dunia, Jorge Lorenzo.

CEDERA VALENTINO ROSSI

Usai menapaki tangga podium di tiga seri pertama, Valentino Rossi harus menunggu lama untuk mengulang prestasi tersebut, sampai dirinya meraih kemenangan di Belanda. Sayangnya, masalah grip yang melanda Yamaha membuatnya sulit tampil konsisten. Masalah pun kian bertambah saat ia mengalami kecelakaan motocross di Cavallara, Italia tepat sepekan sebelum turun di seri kandangnya, Mugello, Italia.

Beruntung, Rossi masih bisa turun balapan walau dirundung cedera abdomen dan memar pada ginjal, dan ia mampu finis keempat. Tapi tetap saja, kurangnya grip Yamaha yang mendera masih menjadi masalah besar. Podium di Silverstone, Inggris membuatnya senang dan merasa yakin bisa kembali bertarung di papan atas. Sayangnya, hanya tiga hari usai merebut podium tersebut, Rossi mengalami kecelakaan enduro di Italia.

Kecelakaan ini cukup ringan dan terjadi dalam kecepatan rendah, namun dampaknya sangat serius. Rossi mengalami patah tulang fibula dan tibia pada kaki kanan. Ia pun harus absen di seri kandangnya yang kedua, Misano, San Marino. Namun ajaibnya, dalam usia 38 tahun, pemulihan kaki The Doctor hanya butuh 23 hari, dibanding 40 hari sesuai perkiraan dokter. Ia kembali balapan di Aragon, Spanyol dan sukses finis kelima.

PEMBUKTIAN DIRI DANILO PETRUCCI

Sebelum MotoGP 2017 bergulir, mungkin nama Danilo Petrucci begitu jarang didengar. Menjalani debut MotoGP pada 2012, perjalanan Petrux tak pernah mudah, karena ia harus bergulat di atas motor CRT selama tiga tahun, sebelum akhirnya mendapat kepercayaan membela Pramac Racing dan Ducati pada 2015.

Usai bertarung melawan Scott Redding sepanjang 2016 demi mendapatkan motor pabrikan pada 2017, Petrucci pun membuktikan bahwa dirinya memang punya potensi menjadi salah satu rider papan atas, terlihat dari empat podium yang ia raih sepanjang musim ini.

Memiliki motor setara dengan Andrea Dovizioso dan Jorge Lorenzo, Petrucci berhasil meraih podium di Mugello, Italia yang kemudian berlanjut dengan pertarungan memperebutkan kemenangan di Belanda dan Misano, di mana sayangnya ia harus menelan pil pahit akibat dikalahkan Valentino Rossi dan Marc Marquez di lap terakhir.

Podium yang ia raih di Jepang dalam guyuran hujan lebat pun semakin membuktikan bahwa rider Italia ini wajib disaksikan performanya tahun depan. Jika berhasil memperbaiki diri, Petrucci pun punya peluang naik ke tim pabrikan pada 2019.

DRAMA YAMAHA

Dengan dominasi Maverick Vinales di uji coba pascamusim, pramusim serta dua seri pertama, Yamaha sempat digadang-gadang bakal mempertahankan gelar Triple Crown tahun ini. Bagaimana tidak? Selain memiliki rider muda ambisius dan bertalenta, selama ini YZR-M1 dikenal sebagai motor dengan performa paling seimbang di MotoGP.

“Apapun bisa terjadi sepanjang musim MotoGP,” adalah kalimat yang kerap dilontarkan para penghuni paddock, dan itulah yang terjadi pada Yamaha. MotoGP Jerez, Spanyol merupakan tanda-tanda kegoyahan mereka, di mana M1 sangat sulit dikendalikan di kondisi grip rendah, mengingat aspal Jerez telah begitu uzur.

Kemenangan Vinales di Le Mans, Prancis sempat mengalihkan pandangan Yamaha dari masalah ini, yang justru kembali muncul di Catalunya dengan penyebab yang sama, dan terus berlanjut di sirkuit-sirkuit yang diguyur hujan. Sejak menang di Le Mans, Vinales tak lagi meraih kemenangan, dan Valentino Rossi hanya mampu menang di Belanda.

Masalah teknis yang tak pernah mendapat solusi nyata ini pun disebut-sebut sebagai biang keladi utama dari kegagalan Vinales merebut gelar dunia dan peringkat runner up, dan menjadi PR besar bagi Yamaha bila ingin kembali bersaing sengit di MotoGP 2018.

ADAPTASI LORENZO-DUCATI

Usai sembilan musim membela Yamaha, tentu saja Jorge Lorenzo menjadi salah satu sorotan utama berkat keputusannya pindah ke Ducati Corse. Proses adaptasinya di atas Desmosedici menjadi perhatian banyak orang, dan sebagai lima kali juara dunia, setiap gerak-geriknya terus menuai komentar.

Lama membela Yamaha, Lorenzo jelas butuh waktu menyesuaikan diri dengan Ducati yang memiliki karakter jauh berbeda. Awal musim ini pun Por Fuera harus jatuh bangun dan frustrasi menghadapi tantangan karena tak mudah finis di posisi papan atas. Finis ketiga dan podiumnya di Jerez bahkan bukanlah tanda signifikan dari adaptasinya.

Terus mengalami masalah, Lorenzo pun mengalami perubahan besar dan seolah kembali menjadi dirinya sendiri sejak pertengahan musim, yakni saat ia mulai memakai wing fairing di Ceko. Ia mulai konsisten bertarung di lima besar, bahkan ikut memperebutkan kemenangan, dan meraih dua podium tambahan di Aragon dan Malaysia.

(Artikel ini juga tayang di Bola.net)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s